Pages

Sabtu, 15 September 2012

Pendidikan Seks

Perlunya Pendidikan Seks Begitu mendengar ”seks”, secara otomatis pikiran kita akan membayangkan sesuatu yang hanya pantas untuk orang dewasa saja. Kita hampir tidak pernah menghubungkan kata ”seks” dengan anak-anak. Padahal menurut pakar seksual, Wimpie Pangkahila, manusia adalah makhluk seks. Seksualitas tidak muncul begitu saja ketika kita menjadi remaja atau dewasa. Seksualitas mulai berkembang sejak bayi, bahkan sejak dalam kandungan. Seksualitas ini harus berkembang selaras dengan perkembangan tubuh, jiwa dan roh. Kalau perkembangan ini tidak selaras, maka dapat terjadi trauma seksual dan penyimpangan orientasi seksual. Sebagai contoh, apa yang Anda lakukan jika mendapati anak Anda memainkan alat kelaminnya? Apakah buru-buru memarahi? Jika ya, maka sang anak akan mengalami trauma seksual berupa perasaan bahwa alat kelaminnya itu tidak baik. Dalam budaya Timur, soal seks memang masih dibicarakan dengan bisik-bisik, disertai muka merah karena malu. Masih ada tabu-tabu yang pantang dilanggar. Banyak orangtua kesulitan mengatakan ”vagina”, ”penis” atau ”payudara” tanpa rasa malu. Mereka bahkan menggantinya dengan istilah-istilah yang tersamar. Jika pada suatu waktu sang anak menanyakan mengenai seks atau alat kelamin, kita dapat menjelaskan secara bertahap, dengan bahasa yang mudah dipahami oleh sang anak. Contoh, keluar pertanyaan dari anak laki-laki atau sebaliknya, Ibu mengapa ibu memiliki bentuk lamin yang berbeda dengan adik? Kita hanya perllu menjawab : Adik kita manusia telah diciptakan oleh tuhannya secara berpasang-pasangan, Ibu adalah wanita dan adik adalah laki-laki, disini adik sebagai laki-laki dan adik itu sama dengan ayahmu, adik tau itu! Namun disini kita memiliki peranan yang berbeda. Ibu yang melahirkan kamu saat Ibu dan ayah telah bersatu (Menikah), adik paham itu..? Adik pun kelak akan merasakan perasaan yang sama kelak setelah adik dewasa, adik harus percaya itu. Atau kita bisa temukan ucapan-ucapan yang lain yang lebih baik atau lebih mudah dimengerti oleh sang anak. Sesungguhnya, seks dan alat kelamin itu adalah ciptaan Tuhan yang baik. Jika kita tidak memberikan informasi yang benar dan lengkap tentang seks pada anak ,maka mereka diam-diam akan mencari tahu dari sumber-sumber lain yang dipenuhi mitos. Yang lebih buruk lagi, mereka terjebak di dalam kecanduan pornografi. Ketidaktuahuan tentang seks juga menyebabkan anak-anak rentan terhadap pelecehan seksual. Itulah pentingnya pendidikan seks. Sayangnya, masih banyak orang yang mencampur-adukkan antara pendidikan seks dengan pornografi. Pendidikan seks dibayangkan seperti memperlihatkan gambar-gambar erotis kepada anak-anak. Sesungguhnya ada perbedaan antara pornografi dan pendidikan seks. Ketika kaisar Tiberius Claudius Nero berkuasa di Romawi (tahun 14-37 M), dia senang mengkoleksi benda-benda pornografi eksplisit, yang sebagian besar berasal dari wilayah Timur. Koleksinya ini dinamai: "kumpulan tulisan tentang perempuan sundal". Dari sinilah, orang Yunani kuno lalu menciptakan istilah pornografi. Dalam bahasa Yunani, pornographos berarti "tulisan tentang prostitusi" (porne = "prostitusi" + graphein= "tulisan"). Kata ini berdekatan dengan kata pernanai yang artinya "menjual". Sedangkan menurut ensiklopedi Britanica, pornografi memiliki tiga makna : (1) Pelukisan tentang perilaku erotis (dalam bentuk gambar atau tulisan) yang bertujuan untuk menciptakan kenikmatan seksual; (2) materi (seperti buku atau foto) yang menggambarkan perilaku erotis dan sengaja bertujuan untuk menciptakan kenikmatan seksual; (3) Penggambaran perbuatan dalam bentuk sensasional sehingga bisa menimbalkan reaksi emosi secara cepat dan kuat. Singkatnya tujuan pornografi adalah untuk membangkitkan nafsu seksual/erotis dan ada unsur komersialisasi di dalamnya. Sedangkan pendidikan seksual bertujuan memberikan informasi yang benar seputar seksualitas. Meski tak bisa terhindarkan dalam menyinggung organ-organ seksual, tapi semua itu disajikan secara proporsional dan tidak vulgar. Kami pernah memasukkan materi pendidikan seks ini dalam acara camp Anak Sekolah Minggu. Ternyata dapat diterima anak dengan baik, tanpa rasa malu atau sungkan. Siapa yang sebaiknya memberikan pendidikan seks? Orangtua! Sebagian besar hidup anak dihabiskan bersama orangtua. Oleh karena itu, orangtua perlu menjalin komunikasi dengan anak-anak. Jika komunikasi lancar, anak-anak merasa bebas untuk bertanya atau bercerita pada orangtua jika mengalami persoalan seputar seks. Pada hakikatnya, kita perlu mengenal akan perlunya tambahan belajar kita mengenai sex, bukan untuk di jalani namun untuk kita pelajari baik buruknya. Kita akan bissa menilai mana yang pantas kita jalani, dan manapula yang tidak pantas kita ikuti. Ada masa dimana kita akan dan harus mengetahui inti dari pembelajaran ini. Maka dari itu pembelajaran aata upendidikan ini berfungsi untuk memberikan informasi yang benar seputar seksualitas, maksudnya memberikan suatu pernyataan baik kepada anak yang kiranya menduduki sekolah dasar ataupun di kalangan mahasiswa. Remaja adalah masa peralihan dari masa kanak-kanak ke masa dewasa.Menurut badan kesehatan dunia usia remaja adalah 12 sampai 24 tahun. Namun jika pada usia remaja seseorang sudah menikah, maka ia tergolong usia dewasa. Sebaliknya, jika usia sudah bukan lagi remaja tetapi masih tergantung pada orang tua (tidak mandiri), maka dimasukkan ke dalam kelompok remaja. Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan ketika berbicara tentang remaja,terutama yang berhubungan dengan perkembangan seks. Ada kesan pada remaja bahwa seks itu menyenangkan, bahkan membahagiakan, sehingga tidak ada yang perlu ditakutkan. ada yang beranggapan bahwa gaul atau tidaknya seorang remaja dilihat dari pengalaman seks mereka, sehingga ada opini “seks adalah sesuatu yang menarik dan perlu dicoba“ (dikenal dengan istilah sexpectation). Pendidikan seks diperlukan agar anak mengetahui fungsi organ seks, tanggungjawab yang ada padanya, dan panduan menghindari penyimpangan dalam berbuat seks.Memang masa remaja adalah masa yang didominasi dengan masalah-masalah seks. Banyak remaja yang memiliki bacaan-bacaan porno, melihat film-film porno dan yang lebih parah lagi ketika mereka berhadapan dengan rangsangan seks seperti suara, pembicaraan, tulisan, foto, sentuhan, film. Padahal apabila remaja sudah terjatuh dalam kegiatan seks yang haram, maka akibatnya sudah tidak bisa dibayangkan lagi.Seperti : Hilangnya harga diri remaja laki-laki dan perempuan, terjadinya hamil diluar nikah, dan ada pula yang setelah tau mereka hamil kemudian digugurkan. Begitu mendengar ”seks”, secara otomatis pikiran kita akan membayangkan sesuatu yang hanya pantas untuk orang dewasa saja. Kita hampir tidak pernah menghubungkan kata ”seks” dengan anak-anak. Padahal menurut pakar seksual, Wimpie Pangkahila, manusia adalah makhluk seks. Seksualitas tidak muncul begitu saja ketika kita menjadi remaja atau dewasa. Seksualitas mulai berkembang sejak bayi, bahkan sejak dalam kandungan. Seksualitas ini harus berkembang selaras dengan perkembangan tubuh, jiwa dan roh. Kalau perkembangan ini tidak selaras, maka dapat terjadi trauma seksual dan penyimpangan orientasi seksual. Sebagai contoh, apa yang Anda lakukan jika mendapati anak Anda memainkan alat kelaminnya? Apakah buru-buru memarahi? Jika ya, maka sang anak akan mengalami trauma seksual berupa perasaan bahwa alat kelaminnya itu tidak baik. Dalam budaya Timur, soal seks memang masih dibicarakan dengan bisik-bisik, disertai muka merah karena malu. Masih ada tabu-tabu yang pantang dilanggar. Banyak orangtua kesulitan mengatakan ”vagina”, ”penis” atau ”payudara” tanpa rasa malu. Mereka bahkan menggantinya dengan istilah-istilah yang tersamar. Jika pada suatu waktu sang anak menanyakan mengenai seks atau alat kelamin, kita dapat menjelaskan secara bertahap, dengan bahasa yang mudah dipahami oleh sang anak. Contoh, keluar pertanyaan dari anak laki-laki atau sebaliknya, Ibu mengapa ibu memiliki bentuk lamin yang berbeda dengan adik? Kita hanya perllu menjawab : Adik kita manusia telah diciptakan oleh tuhannya secara berpasang-pasangan, Ibu adalah wanita dan adik adalah laki-laki, disini adik sebagai laki-laki dan adik itu sama dengan ayahmu, adik tau itu! Namun disini kita memiliki peranan yang berbeda. Ibu yang melahirkan kamu saat Ibu dan ayah telah bersatu (Menikah), adik paham itu..? Adik pun kelak akan merasakan perasaan yang sama kelak setelah adik dewasa, adik harus percaya itu. Atau kita bisa temukan ucapan-ucapan yang lain yang lebih baik atau lebih mudah dimengerti oleh sang anak. Sesungguhnya, seks dan alat kelamin itu adalah ciptaan Tuhan yang baik. Jika kita tidak memberikan informasi yang benar dan lengkap tentang seks pada anak ,maka mereka diam-diam akan mencari tahu dari sumber-sumber lain yang dipenuhi mitos. Yang lebih buruk lagi, mereka terjebak di dalam kecanduan pornografi. Ketidaktuahuan tentang seks juga menyebabkan anak-anak rentan terhadap pelecehan seksual. Itulah pentingnya pendidikan seks. Sayangnya, masih banyak orang yang mencampur-adukkan antara pendidikan seks dengan pornografi. Pendidikan seks dibayangkan seperti memperlihatkan gambar-gambar erotis kepada anak-anak. Sesungguhnya ada perbedaan antara pornografi dan pendidikan seks. Ketika kaisar Tiberius Claudius Nero berkuasa di Romawi (tahun 14-37 M), dia senang mengkoleksi benda-benda pornografi eksplisit, yang sebagian besar berasal dari wilayah Timur. Koleksinya ini dinamai: "kumpulan tulisan tentang perempuan sundal". Dari sinilah, orang Yunani kuno lalu menciptakan istilah pornografi. Dalam bahasa Yunani, pornographos berarti "tulisan tentang prostitusi" (porne = "prostitusi" + graphein= "tulisan"). Kata ini berdekatan dengan kata pernanai yang artinya "menjual". Sedangkan menurut ensiklopedi Britanica, pornografi memiliki tiga makna : (1) Pelukisan tentang perilaku erotis (dalam bentuk gambar atau tulisan) yang bertujuan untuk menciptakan kenikmatan seksual; (2) materi (seperti buku atau foto) yang menggambarkan perilaku erotis dan sengaja bertujuan untuk menciptakan kenikmatan seksual; (3) Penggambaran perbuatan dalam bentuk sensasional sehingga bisa menimbalkan reaksi emosi secara cepat dan kuat. Singkatnya tujuan pornografi adalah untuk membangkitkan nafsu seksual/erotis dan ada unsur komersialisasi di dalamnya. Sedangkan pendidikan seksual bertujuan memberikan informasi yang benar seputar seksualitas. Meski tak bisa terhindarkan dalam menyinggung organ-organ seksual, tapi semua itu disajikan secara proporsional dan tidak vulgar. Kami pernah memasukkan materi pendidikan seks ini dalam acara camp Anak Sekolah Minggu. Ternyata dapat diterima anak dengan baik, tanpa rasa malu atau sungkan. Siapa yang sebaiknya memberikan pendidikan seks? Orangtua! Sebagian besar hidup anak dihabiskan bersama orangtua. Oleh karena itu, orangtua perlu menjalin komunikasi dengan anak-anak. Jika komunikasi lancar, anak-anak merasa bebas untuk bertanya atau bercerita pada orangtua jika mengalami persoalan seputar seks. Pada hakikatnya, kita perlu mengenal akan perlunya tambahan belajar kita mengenai sex, bukan untuk di jalani namun untuk kita pelajari baik buruknya. Kita akan bissa menilai mana yang pantas kita jalani, dan manapula yang tidak pantas kita ikuti. Ada masa dimana kita akan dan harus mengetahui inti dari pembelajaran ini. Maka dari itu pembelajaran aata upendidikan ini berfungsi untuk memberikan informasi yang benar seputar seksualitas, maksudnya memberikan suatu pernyataan baik kepada anak yang kiranya menduduki sekolah dasar ataupun di kalangan mahasiswa. Remaja adalah masa peralihan dari masa kanak-kanak ke masa dewasa.Menurut badan kesehatan dunia usia remaja adalah 12 sampai 24 tahun. Namun jika pada usia remaja seseorang sudah menikah, maka ia tergolong usia dewasa. Sebaliknya, jika usia sudah bukan lagi remaja tetapi masih tergantung pada orang tua (tidak mandiri), maka dimasukkan ke dalam kelompok remaja. Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan ketika berbicara tentang remaja,terutama yang berhubungan dengan perkembangan seks. Ada kesan pada remaja bahwa seks itu menyenangkan, bahkan membahagiakan, sehingga tidak ada yang perlu ditakutkan. ada yang beranggapan bahwa gaul atau tidaknya seorang remaja dilihat dari pengalaman seks mereka, sehingga ada opini “seks adalah sesuatu yang menarik dan perlu dicoba“ (dikenal dengan istilah sexpectation). Pendidikan seks diperlukan agar anak mengetahui fungsi organ seks, tanggungjawab yang ada padanya, dan panduan menghindari penyimpangan dalam berbuat seks.Memang masa remaja adalah masa yang didominasi dengan masalah-masalah seks. Banyak remaja yang memiliki bacaan-bacaan porno, melihat film-film porno dan yang lebih parah lagi ketika mereka berhadapan dengan rangsangan seks seperti suara, pembicaraan, tulisan, foto, sentuhan, film. Padahal apabila remaja sudah terjatuh dalam kegiatan seks yang haram, maka akibatnya sudah tidak bisa dibayangkan lagi.Seperti : Hilangnya harga diri remaja laki-laki dan perempuan, terjadinya hamil diluar nikah, dan ada pula yang setelah tau mereka hamil kemudian digugurkan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar